Terjadinya Ombak Bono Kampar

Tinjauan Ilmiah Terjadinya Ombak Bono Kampar

Di dalam kajian Ilmu Lingkungan Mekanika Cairan atau Environmental Fluid Mechanics, istilah Bono disebut dengan Tidal Bore atau bore/ aegir/ eagre/ eygre. Artikel ini akan mengupas terjadinya gelombang atau ombak Bono dari sudut pandang ilmiah. Secara ilmiah, Bono Wave terjadi akibat adanya pertemuan antara arus sungai dengan arus laut yang menuju ke arah hulu dan hilir. Pertemuan ini menyebabkan satu gelombang besar yang menyerupai kondisi gelombang yang biasa kita lihat di tengah laut. Fenomena alam tersebut sedikitnya terjadi di 4 daerah di dunia, termasuk di Indonesia yakni di daerah Desa Teluk Meranti, Riau Indonesia. Selain itu di Riau juga ditemukan gelombang Bono yang lebih kecil, tepatnya di Sungai Rokan.

Secara umum, ombak Bono tersebut dinamakan dengan TIDAL BORE. Di Malaysia istilah ini di sebut dengan BENAK yaitu Benak Muara Sungai Batang Lupar Sri Aman Sarawak. Sementara di Sungai Kent Inggris disebut dengan The Arnside Bore, dan ada pula yang menyebutnya dengan Aegir. Di Sungai Severn Inggris disebut dengan istilah The Severn Bore. Di Sungai Amazon serta sungai-sungai disekitarnya disebut dengan nama Pororoca.

Wikipedia menuliskan :
A tidal bore (or simply bore in context, or also aegir, eagre, or eygre) is a tidal phenomenon in which the leading edge of the incoming tide forms a wave (or waves) of water that travel up a river or narrow bay against the direction of the river or bay's current.

Bambang Yulistiyanto menuliskan :
Pasang surut yang ada di Muara Sungai Kampar mempunyai tinggi gelombang sekitar 4 m (Deshidros, 2006). Pasang surut tersebut berupa pasang surut tipe Campuran Condong ke Harian Ganda, dimana dalam 1 hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi pasang surut yang pertama dan kedua berbeda. Periode gelombang pasang surut sekitar 12 jam 25 menit.

Di Sungai Kampar, muara sungai berbentuk seperti huruf "V", massa air masuk melalui mulut teluk yang lebar kemudian tertahan, hingga air laut pasang memenuhi kawasan muara. Massa air yang terkumpul kemudian terdorong kearah hulu yang menyebabkan semacam efek tekanan kuat ketika melewati areal yang menyempit dan dangkal secara konstan di mulut teluk. Keadaan ini memunculkan gelombang yang bervariasi di hulu teluk, dari hanya berupa gelombang-gelombang kecil hingga beberapa meter ketinggiannya.

Di muara Sungai Kampar, kecepatan gelombang dapat lebih rendah dibandingkan kecepatan arus sungai yang berasal dari hulu sungai. Hal ini berakibat pada terhambatnya gerakan gelombang pasang dari laut, yang berakibat pada naiknya muka air dari muara, sehingga terbentuk Tidal Bore ‘Bono’. Gelombang Bono bergerak ke hulu sampai ke Tanjung Pungai yang berjarak sekitar 60 km dari muara.

Bono yang menjalar menuju ke hulu melewati alur sungai yang semakin menyempit. Saat melewati Pulau Muda, gelombang pasang ini terpisah menjadi dua, sebagian lewat alur di sebelah kiri, dan sebagian lagi lewat alur sebelah kanan Pulau Muda. Di Tanjung Perbilahan Bono yang terpisah tersebut saling bertemu, menghasilkan momentum yang mengakibatkan Gelombang Bono semakin besar. Penduduk setempat menyebut peristiwa ini sebagai ‘Bono yang bertepuk’. Di Tanjung Perbilahan, Gelombang Bono terjadi paling besar.


Proses Terjadinya Ombak Bono

Ombak Bono yang terjadi di Sungai Kampar terjadi biasanya pada saat pasang naik terjadi di laut. Air pasang tersebut kemudian menju ke Sungai Kampar. Selanjutnya kecepatan dari arus di Sungai Kampar akan berbenturan dengan air pasang naik dari laut sehingga terjadilah gelombang yang dinamakan Bono Wave tersebut. Bono hanya akan terjadi apabila air laut pasang, semakin besar air pasang yang terjadi di laut, maka kemungkinan Bono Wave yang terjadi akan semakin besar pula. Faktor hujan yang akan meningkatkan debit air sungai juga akan mempengaruhi besarnya gelombang Bono yang terbentuk. Bisa dibayangkan apabila kondisi curah hujan tinggi dan air pasang di laut cukup besar, maka kondisi Bono Wave juga akan semakin lebih besar lagi.



Sebelum terjadinya gelombang Bono, biasanya akan diawali dengan bunyi desingan, selanjutnya akan terdengar bunyi gemuruh air. Bunyi gemuruh tersebut semakin lama akan semakin keras dan muncul lah gelombang besar yang disebut dengan Bono Wave tersebut. Kecepatan dari gelombang ombak Bono mencapai 40 km/jam. Ombak ini mampu memasuki ke arah hulu sungai berkilo-kilo meter jauhnya. Biasanya mampu mencapai jarak sekitar 60 km ke arah hulu dan akan berakhir di daerah Tanjung Pungai. Jumlah gelombang Bono tersebut cukup banyak dan beriringan. Terkadang di tepi sungai dan terkadang juga bisa terjadi di tengah sungai. Bono yang terbesar biasanya akan terjadi ketika musim penghujan tiba, dimana debit air Sungai Kampar akan naik. Pada hitungan bulan biasanya akan terjadi di bulan November dan Desember.

Menurut masyarakat sekitar, Bono biasanya akan terjadi pada setiap tanggal 10-20 bulan Melayu tahun Arab, atau yang biasa disebut penduduk sebagai ‘Bulan Besar’ ataupun ‘Bulan Purnama’. Sementara untuk gelombang Bono yang besar biasanya akan terjadi pada tanggal 13-16 bulan Melayu tahun Arab tersebut. Gelombang yang terbentuk umumnya berwarna putih dan coklat, sesuai dengan warna air sungai. Bono juga akan terjadi pada setiap ‘bulan mati’ atau akhir bulan dan awal bulan dari tahun Arab.

Sebenarnya kedalam sungai di sekitar terjadinya gelombang Bono tersebut tidak lah dalam. Hanya sekitar 1 sampai 2 meter saja, dengan bagian-bagian alur tertentu yang memiliki kedalaman sekitar 10 hingga 15 meter sebagai tempat lewatnya transportasi kapal. Akibat adanya Bono, alur tersebut sering berpindah-pindah. Sehingga untuk kapal-kapal yang melewati daerah ini harus menggunakan orang yang mengetahui alur sungai, atau biasa disebut dengan tekong.

Ombak Bono biasanya akan terjadi pada muara sungai yang kondisnya lebar dan dangkal kemudian menyempit setelah berada di dalam sungai. Bentuk dari muara sungai yang menguncup tersebut menyerupai huruf "V" atau corong. Selanjutnya akan didukung dengan kondisi sungai yang mendangkal akibat terjadinya erosi alami. Pertemuan dua arus yakni arus sungai dan laut di lokasi ini akan menyebabkan Bono Wave. Namun tidak semua muara sungai yang berbentuk V dangkal akan dapat memicu terjadinya Tidal Bore. Karena hal lainnya juga dipengaruhi oleh adanya faktor tinggi pasang-surut air laut.

Sumber :
www.attayaya.net
www.wikipedia.net
Bambang Yulistiyanto
READ MORE - Terjadinya Ombak Bono Kampar

Wisata Ombak Bono Sungai Kampar

WISATA BONO SUNGAI KAMPAR
Attayaya ZAM
Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru
[untuk buku wisata blogger]

Biasanya ombak atau gelombang hanya terjadi di tepi pantai atau laut akibat perubahan arus air dan angin yang jika berukuran cukup besar banyak dimanfaatkan untuk bermain selancar. Maka, jika melihat orang berselancar di pantai adalah merupakan suatu hal yang sudah biasa. Tetapi melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang luar biasa.

Kegiatan ini adalah kegiatan berselencar dengan papan selancar di atas ombak, bukan arung jeram ataupun dayung sampan. Kegiatan berselancar di sungai hanya ada beberapa tempat saja di dunia ini. Tempat-tempat ini memiliki arus gelombang yang membentuk ombak sungai yang besar dan lama.

Tempat berselancar di sungai yang dimaksud tersebut, salah satunya berada di Indonesia, selain di beberapa sungai di Amerika Selatan dan Cina serta Eropa. Hal ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Lokasi tepatnya adalah di Muara (Kuala) Sungai Kampar - Kecamatan Kuala Kampar - Kabupaten Pelalawan - Propinsi Riau - Indonesia. Gelombang ombak sungai ini disebut Gelombang BONO ataupun Ombak Bono yang berukuran cukup besar. Bono yang lebih kecil berlokasi di Muara Sungai Rokan - Kabupaten Rokan Hilir Propinsi Riau - Indonesia.

BONO adalah gelombang atau ombak yang terjadi di Muara (Kuala) Sungai Kampar Riau Indonesia yang merupakan suatu fenomena alam akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai akibat pasang. Menurut beberapa peselancar dunia yang telah berselancar di ombak Bono mengatakan bahwa ombak Bono ini merupakan ombak sungai yang terbesar yang pernah mereka temui.

BONO MENURUT PENDUDUK
Muara Sungai tempat Bono terjadi disebut penduduk sebagai KUALA KAMPAR memiliki ombak Bono yang dapat mencapai ketinggian 6-10 meter tergantung keadaan pada saat kejadian dan titik lokasi. Menurut cerita Melayu lama berjudul Sentadu Gunung Laut, setiap pendekar Melayu pesisir harus dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka. Hal ini dapat masuk akal karena "mengendarai" Bono intinya adalah menjaga keseimbangan badan, diluar masalah mistis.

Bono ini sebenarnya terdapat di dua lokasi yaitu di Muara (Kuala) Sungai Kampar dan di Muara (Kuala) Sungai Rokan. Masyarakat setempat menyebut Bono di Kuala Kampar sebagai BONO JANTAN karena lebih besar, sedangkan Bono di Kuala Rokan sebagai BONO BETINA karena lebih kecil.

Dahulu, karena masih ada sifat mistis di lokasi tersebut, maka untuk mengendarai Bono harus dengan upacara "semah" yang dilakukan pagi atau siang hari. Upacara dipimpin oleh BOMO atau Datuk atau tetua kampung dengan maksud agar pengendara Bono selalu mendapat keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Selain itu ada cerita mistis (mungkin) yang berhubungan dengan gelombang Bono ini yaitu cerita tentang BANJIR DARAH DI MEMPUSUN atau MEMPUSUN BERSIMBAH DARAH dan terbentuknya Kerajaan Pelalawan 1822 Masehi.

Sekarang, masyarakat sekitar Kuala Kampar menganggap Bono sebagai "sahabat alam". Penduduk yang berani akan "mengendarai" Bono dengan sampan mereka tidak dengan menggunakan papan selancar pada umumnya. Mengendarai sampan di atas ombak Bono menjadi suatu kegiatan ketangkasan. Tetapi kegiatan ini memiliki resiko tinggi karena ketika salah mengendarai sampan, maka sampan akan dapat dihempas oleh ombak Bono, tak jarang yang sampannya hancur berkeping-keping.

OMBAK BONO, OMBAK TUJUH HANTU
Menurut cerita masyarakat Melayu lama, ombak Bono terjadi karena perwujudan 7 (tujuh) hantu yang sering menghancurkan sampan maupun kapal yang melintasi Kuala Kampar. Ombak besar ini sangat menakutkan bagi masyarakat sehingga untuk melewatinya harus diadakan upacara semah seperti yang telah disebutkan di atas. Ombak ini sangat mematikan ketika sampan atau kapal berhadapan dengannya. Tak jarang sampan hancur berkeping-keping di hantam ombak tersebut atau hancur karena menghantam tebing sungai karena didorong oleh ombak. Tak sedikit kapal yang diputar balik dan tenggelam akibatnya.

Menurut cerita masyarakat, dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 (tujuh) ombak besar yang terbentuk oleh 7 hantu. Ketika pada masa penjajahan Belanda, kapal-kapal transportasi Belanda sangat mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut. Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 (enam) gulungan besar ombak Bono.

Tujuh Hantu atau Ombak Tujuh Hantu adalah 7 gulungan ombak Bono dengan formasi 1 di depan dan diikuti dengan 6 gelombang di belakangnya. Karena 1 ombak terbesar telah dihancurkan Belanda sehingga ombak Bono besar hanya tersisa 6 ombak dengan formasi hampir sejajar memasuki Kuala Kampar. Mengenai kapal Belanda dan orang-orangnya tidak pernah diketemukan sampai sekarang. Ombak 7 Hantu ini dapat muncul pada titik-titik lokasi tertentu.


TINJAUAN ILMIAH, PENYEBAB DAN WAKTU TERJADI OMBAK BONO
Di dalam kajian Lingkungan Mekanika Cairan (Environmental Fluid Mechanics), Bono disebut TIDAL BORE atau tide-bore/bore/aegir/eagre/eygre. Sebenarnya Tidal Bore ini banyak terjadi di berbagai negara dengan ukuran gulungan ombak yang berbeda-beda. Hal ini pun menyebabkan penyebutan Tidal Bore menjadi bermacam-macam sesuai dengan nama lokalnya. Di Riau disebut Bono, Malaysia menyebutnya Benak, di Sungai Kent Inggris menyebutnya Arnside Bore dan sebagian menyebutnya Aegir, di Sungai Amazon disebut Pororoca, di Perancis disebut Un-Mascaret atau Le-Mascarin,

Ombak Bono atau kadang biasa juga disebut Gelombang Bono (Bono Wave) terjadi ketika laut mengalami pasang (pasang naik) dimana air laut akan memasuki Sungai Kampar. Kecepatan arus air laut yang memasuki sungai berbenturan dengan arus air sungai yang menuju arah laut. Benturan kedua arus itulah yang menyebabkan gelombang atau ombak tersebut.

Bono akan terjadi hanya ketika air laut pasang. Dan akan menjadi lebih besar lagi jika pada saat air laut mengalami pasang besar (bulan besar) diiringi hujan deras di hulu Sungai Kampar. Derasnya arus sungai akibat hujan akan berbenturan dengan derasnya pasang air laut yang masuk ke Kuala Kampar.

Ketika akan terjadinya ombak Bono diawali dengan bunyi desingan yang diikuti dengan bunyi gemuruh air. Bunyi gemuruh semakin lama akan semakin keras bagaikan dentuman guntur diiringi dengan besarnya gelombang ombak Bono. Pada saat sekarang, bunyi itu akan terasa saat terjadinya ombak Bono malam hari. Dalam 1 hari (24 jam), Bono akan terjadi 2 kali yaitu ketika air laut pasang siang dan air laut pasang malam. Umumnya Bono di siang hari lebih besar daripada Bono di malam hari. Tetapi, karena pengaruh tempat dan kondisi suara lingkungan, maka suara Bono malam hari akan terasa lebih kuat.

Kecepatan gelombang ombak Bono mencapai 40 km/jam dan memasuki ke arah hulu berkilo-kilo meter jauhnya biasanya mencapai jarak 60 km jauhnya ke hulu dan berakhir di daerah Tanjung Pungai. Ombak Bono ini tidak 1 (satu) jumlahnya, tetapi banyak dan beriringan serta terkadang berjajar. Kadang berada di kiri dan kanan tepi atau tebing sungai, kadang menyatu di tengah sungai. Gelombang yang terjadi biasanya akan berwarna putih dan coklat mengikut warna air Sungai Kampar.

Ukuran besar ombak Bono sangat bervariasi tergantung lokasi, waktu kejadian, kecepatan arus sungai. Kecepatan arus sungai dipengaruhi oleh musim penghujan baik di hulu maupun di hilir dan daerah aliran sepanjang Sungai Kampar.

Bono biasanya terjadi pada setiap tanggal 10-20 bulan Melayu dalam tahun Arab yang biasa disebut penduduk sebagai "Bulan Besar" atau "Bulan Purnama". Biasanya gelombang Bono atau Ombak Bono yang besar terjadi pada tanggal 13-16 bulan Melayu tahun Arab tersebut. Selain itu, Bono juga terjadi pada setiap "bulan mati" yaitu akhir bulan dan awal bulan (tanggal 26 s/d tanggal 1 bulan berikutnya).

Untuk tahun 2013-2104-2015, diperkirakan Bono akan terjadi pada jadwal perkiran di bawah ini :

Jadwal ini dibuat oleh Attayaya berdasarkan pergerakan bulan.
JADWAL BONO 2013 :

05 – 07 September 2013 (M)
19 – 21 September 2013 (P)
04 – 06 Oktober 2013 (M)
18 – 20 Oktober 2013 (P) (B)
03 – 05 November 2013 (M) (B)
17 – 19 November 2013 (P) (B)
02 – 04 Desember 2013 (M) (B)
17 – 19 Desember 2013 (P) (B)

JADWAL BONO 2014 :

01 – 03 Januari 2014 (M) (B) – Bertepatan dengan Tahun Baru 2014
16 – 18 Januari 2014 (P) (B)
01 - 02 Februari 2014 (M)
13 - 15 Februari 2014 (P)
01 - 03 Maret 2014 (M)
13 - 15 Maret 2014 (P)
30 Maret - 1 April 2014 (M)
13 - 15 April 2014 (P)

JADWAL OMBAK BONO YANG BESAR 2014 :

22 - 24 OktobeR 2014 (M) (B)
04 - 07 NovembeR 2014 (P) (B)
22 - 24 NovemBer 2014 (M) (B)
05 - 07 Desember 2014 (P) (B)
21 - 23 Desember 2014 (M) (B)

JADWAL BONO 2015 :

02 - 05 Januari 2015 (P) (B) Tidak bertepatan dengan Tahun Baru 2015

Keterangan Perkiraan :
Jadwal Terjadinya Bono Sungai Kampar 2012 ini dihitung oleh Attayaya Zam berdasarkan kalender Bulan/Tahun Melayu atau Kalender Hijriyah 1433 - 1434 H.
(P) = Bulan Purnama / tengah bulan Melayu
(M) = Bulan Mati / awal bulan Melayu
(B) = Ombak Bono Sungai Kampar yang berukuran besar berkisar antara 4-6 meter. Selain itu biasanya berukuran sedang dengan ketinggian 3 meter.

CARA MENUJU LOKASI WISATA OMBAK BONO SUNGAI KAMPAR

Ombak Bono terjadi di Kuala Sungai Kampar. Desa yang terdekat dengan lokasi tersebut serta memiliki fasilitas penginapan adalah Desa Teluk Meranti, Kuala Kampar. Sedangkan lokasi berselancar berada di sekitar Desa Pulau Muda. Dari Desa Teluk Meranti menuju Desa Pulau Muda tersedia angkutan speed-boat dengan memakan waktu sekitar 30-45 menit.

Untuk menuju lokasi ombak Bono umumnya dilakukan dari Kota Pekanbaru menuju Pangkalan Kerinci (ibukota Kabupaten Pelalawan) dan lalu menuju Desa Teluk Meranti. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan transportasi darat (mobil, bus, motor). Lama perjalanan memakan waktu antara 5 s/d 6 jam tergantung kondisi jalan dan kepadatan arus lalu lintas.

Perjalanan antara Pekanbaru ke Pangkalan Kerinci adalah melalui Jalan Lintas Timur Sumatera sekitar 1-2 jam. Dari Pangkalan Kerinci menuju Simpang Bunut sekitar 30 menit dan akan memasuki Jalan Lintas Bono menuju Desa Teluk Meranti yang memakan waktu sekitar 3-4 jam.

Lewat transportasi air dapat dilalui melalui Pelabuhan Pangkalan Kerinci yang berada di bawah Jembatan Pangkalan Kerinci. Dari pelabuhan tersebut, dapat dilanjutkan perjalanan dengan menaiki speedboat menuju Desa Teluk Meranti dengan waktu tempuh 4-5 jam serta biaya Rp.125.000/orang. Jika ingin mengendarai kendaraan sendiri, lebih bagus karena dapat mengatur jadwal keberangkatan sendiri tanpa tergantung supir angkutan umum ataupun menunggu penumpang lainnya.

Rute yang kami ambil untuk menuju lokasi ombak Bono adalah rute darat dengan menggunakan jasa angkutan sebagai berikut :
Pekanbaru – Pangkalan Kerinci (Rp.25.000/orang).
Pangkalan Kerinci – Desa Teluk Meranti (Rp.55.000/orang)

Penginapan biasanya masih di rumah masyarakat (homestay) dengan biaya sekitar Rp.50.000 – Rp.100.000 per kamar yang dapat diisi 2 orang. Karena Ombak Bono tidak begitu terlihat bagus dan tidak terlalu besar di Desa Teluk Meranti, maka untuk melihat ombak Bono yang bagus harus menyewa speed boat menuju Kuala Kampar di sekitar kawasan Desa Pulau Muda. Biaya sewa ini tergantung jarak lokasi yang diinginkan berkisar Rp.300.000 – Rp. 600.000 per speed-boat. Speed-boat ini pun bisa disewa untuk mengikuti gerak ombak, yaitu speed boat akan berada di depan ombak dengan jarak yang aman. Penduduk setempat dapat menunjukkan lokasi ombak Bono terbaik, terbesar dan terpanjang. SELAMAT MENIKMATI DAN BERSELANCAR DI WISATA OMBAK BONO SUNGAI KAMPAR.

READ MORE - Wisata Ombak Bono Sungai Kampar